| Home | | Piala Dunia | | Galerry Foto | | Berita Tp Jahil | | Sekilas Info | | Apresiasi Seni | | Tempo Doeloe |

      Wednesday, July 26, 2006

      Kesehatan: Coba Pelumas & Aneka Posisi


      Rusaknya saraf hingga ke sel-sel di sekujur vagina bisa menyebabkan vagina kering, yang pada gilirannya membuat yang bersangkutan tidak merasa nyaman berhubungan seks. Ketidaknyamanan ini pada akhirnya akan menurunkan hasrat atau keinginan berhubungan seks.

      Diabetes atau penyakit lain, obat darah tinggi dan sejumlah obat-obatan lain, minuman beralkohol, merokok, dan faktor psikologis seperti kecemasan atau depresi dapat menyebabkan gangguan seksual pada wanita. Infeksi ginekologis atau keadaan yang berkaitan dengan kehamilan atau menopause juga dapat menjadi penyebab padamnya respon seksual.Menurut situs seekwellness.com, setidaknya 35 persen wanita dengan diabetes mengalami peredupan atau padamnya gairah seksual.

      Redupnya gairah, padam, atau ketidakmampuan menerima perangsangan seksual dan ketidakmampuan memperoleh orgasme dapat menimbulkan simtom seperti:Penurunan atau hilangnya rasa tertarik berhubungan seks. Penurunan atau padamnya sama sekali sensasi di wilayah kelamin. Tidak pernah atau sering tak memperoleh orgasme. Kekeringan di wilayah vagina yang menyebabkan ketidaknyamanan saat sanggama.Bila wanita dengan diabetesi mengalami gangguan seksual atau merasakan adanya perubahan pada respon seksualnya, segera menemui dokter untuk mengupayakan bantuan merupakan pilihan yang dianjurkan.

      Dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan, gangguan ginekologis seperti infeksi, jenis dan frekuensi munculnya gangguan, obat-obatan yang dikonsumsi, kebiasaan minum dan merokok, dan kondisi kesehatan lain.Tes fisik dan laboratorium mungkin harus dilakukan.

      Pengendalian glukosa darah, status kehamilan, kemungkinan menopause, dan kemungkinan sedang depresi atau perubahan hidup yang mungkin tengah terjadi, juga akan dibicarakan.Obat resep atau krim pelumas vagina bisa berguna bagi wanita dengan diabetesi yang mengalami pengeringan vagina. Adapun teknik untuk perawatan menurunnya respon seksual bisa mencakup perubahan posisi dan perangsangan saat berhubungan seks. Konsultasi psikologis serta senam Kegel untuk memperkuat otot penahan urin di kandung kemih juga akan membantu.Berbagai penelitian untuk menemukan obat untuk gangguan tersebut masih berlangsung hingga saat ini. ***

      (sumber: KOMPAS Cyber media)

      Wednesday, July 19, 2006

      Berbagai Angkutan di Kota Jakarta

      Entah sebuah keberuntungan atau sesuatu yang harus dialami ketika dulu pernah merasakan berbagai macam angkutan umum yang beroperasi di Jakarta ini.

      Setiap moda angkutan memberikan sensasi yang luar biasa. Ya, penumpangnya, ya, situasi dan kondisi kendaraannya. Kalau istilah orang yang sedang jatuh cinta, berjuta rasanya, lah!

      Setelah gresek-gresek di sana-sini, berbagai angkutan bisa kudapatkan gambarnya. Masing-masing moda angkutan ada kisah yang mengiringinya. Ada yang pernah dinaiki, ada juga yang sebatas dilihat. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

      1. Angkot: Biasa digunakan ketika mengawali perjalanan menghabiskan hari-hari di Ciputat. Nomor lambung angkot DO-1 selalu memberikan sinonim yang mesra; Angkot Doi! Dulu pp jauh-dekat sekitar 1500. Setelah BBM naik, ongkos angkot pun ikut naik, menjadi sekitar 2000 pp.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      2. Bajaj: Selalu memberikan solusi paling ideal untuk menembus keruwetan lalu lintas Jakarta tanpa takut kehujanan. Walaupun tidak memberikan jaminan tidak akan terkena cipratan air dari mobil yang melintas di samping bajaj.
      Salah satu kenangan terindah adalah ketika bajaj masih diizinkan melintas di halaman Monas. Ketika itu malam tlah merayap melingkupi ibu kota, dari stasiun Gambir dengan bajaj menembus keangkuhan pijar puncak Monas menuju kawasan Thamrin, untuk berganti angkutan ke bus kota jurusan Blok M.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      3. Becak: Belum pernah sama sekali selama di Jakarta naik becak. Beda dengan di Jogja, di Jakarta becak bukan angkutan umum favorit. Mulai dari bentuknya yang sangat ceper, dilihat saja sudah merasa capek. Langsung kasihan dengan si abang becak.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      4. Bemo: Angkutan andalan ketika masih menghuni kawasan Bendungan Hilir (banyak juga yang tidak tahu, lho, kalo Bendungan Hilir itu biasa disingkat dengan Ben-Hil! :p).
      Dengan muatan maksimal 7 orang penumpang (1 orang di depan dan 6 orang di belakang), suasana begitu “menegangkan”. Duduk berhimpitan dengan mbak atau eneng manis bikin tegang, begitupun bila duduk berhimpitan plus bersenggolan lutut dengan mas-mas sangar pasar Benhil. Tetap tegang!

      Photobucket - Video and Image Hosting

      5. Delman: jenis angkutan umum yang juga belum pernah dinaiki selama di Jakarta.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      6. Kereta api (KRL): Salah satu jenis angkutan yang sangat berjasa dalam proses pengerjaan skripsi. Dari Stasiun Pasar Minggu ke Stasiun UI selalu setia menemani. Pernah merasa sia-sia membeli tiket karena tidak pernah ada pemeriksaan tiket. =)

      Photobucket - Video and Image Hosting

      7. Metromini: Wah, untuk yang satu ini penuh suka dan duka lah. Mulai dari harus berlari mengejar laju bis kota maupun harus adu nyali dengan pencoleng yang siap beraksi.
      Bukan bermaksud SARA, namun penyebutan asal daerah dan teman-temannya sangat berpengaruh pada keselamatan jiwa dan barang kita. Hehehehe….
      Jalur Blok M – Tanah Abang, Ragunan – Blok M, maupun Pasar Senen – Benhil, sangat berwarna dengan kehadiran de Oranje ini.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      8. Ojek (motor): Pernah memberikan pengalaman yang menakutkan bagi seorang teman yang baru pertama kali naik ojek ini di Jakarta. Cara mengendarai motor dengan metoda gas pol, rem kalau ingat, memberikan getaran yang tak terlupakan. Dia hanya bisa bilang, “Semprul!”
      Bisa diandalkan untuk semua orang dari berbagai kalangan bila menginginkan jarak Senayan – Gambir ingin ditempuh selama 10 menit.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      9. Ojek (sepeda): Selalu memberikan pemandangan yang mengharukan bila melihat mereka ngetem menunggu para pengguna jasa mereka. Dengan tenaga yang mereka miliki, mereka bekerja keras menggenjot sepeda. Semakin banyak genjotan, semakin banyak lah rupiah masuk kantong mereka.
      Salut juga kepada sebagian di antara mereka yang setia menjadi pengojek sepeda sekadar ingin melestarikan moda angkutan tersebut.
      Mudah dijumpai di sekitar Stasiun Kota. Akan muncul pemandangan unik ketika pengguna jasa mereka yang masih menggunakan baju kerja lengkap dengan dasinya, membonceng geyal-geyol mengikuti gerak sepeda menyusuri jalan di kawasan kota tua itu.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      10. River taxi: Sebutan yang keren, walau tak sekeren penampilannya. Terakhir melihat angkutan ini di sekitar wilayah Manggarai, beberapa tahun yang lampau. Saat ini mungkin mudah ditemui di kawasan Jakarta bagian utara.
      Salah satu jenis angkutan yang belum pernah dinaiki juga.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      Selamat ulang tahun yang ke-479 Jakarta!

      sumber : irwanrouf

      Berbagai Angkutan di Kota Jakarta

      Entah sebuah keberuntungan atau sesuatu yang harus dialami ketika dulu pernah merasakan berbagai macam angkutan umum yang beroperasi di Jakarta ini.

      Setiap moda angkutan memberikan sensasi yang luar biasa. Ya, penumpangnya, ya, situasi dan kondisi kendaraannya. Kalau istilah orang yang sedang jatuh cinta, berjuta rasanya, lah!

      Setelah gresek-gresek di sana-sini, berbagai angkutan bisa kudapatkan gambarnya. Masing-masing moda angkutan ada kisah yang mengiringinya. Ada yang pernah dinaiki, ada juga yang sebatas dilihat. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

      1. Angkot: Biasa digunakan ketika mengawali perjalanan menghabiskan hari-hari di Ciputat. Nomor lambung angkot DO-1 selalu memberikan sinonim yang mesra; Angkot Doi! Dulu pp jauh-dekat sekitar 1500. Setelah BBM naik, ongkos angkot pun ikut naik, menjadi sekitar 2000 pp.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      2. Bajaj: Selalu memberikan solusi paling ideal untuk menembus keruwetan lalu lintas Jakarta tanpa takut kehujanan. Walaupun tidak memberikan jaminan tidak akan terkena cipratan air dari mobil yang melintas di samping bajaj.
      Salah satu kenangan terindah adalah ketika bajaj masih diizinkan melintas di halaman Monas. Ketika itu malam tlah merayap melingkupi ibu kota, dari stasiun Gambir dengan bajaj menembus keangkuhan pijar puncak Monas menuju kawasan Thamrin, untuk berganti angkutan ke bus kota jurusan Blok M.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      3. Becak: Belum pernah sama sekali selama di Jakarta naik becak. Beda dengan di Jogja, di Jakarta becak bukan angkutan umum favorit. Mulai dari bentuknya yang sangat ceper, dilihat saja sudah merasa capek. Langsung kasihan dengan si abang becak.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      4. Bemo: Angkutan andalan ketika masih menghuni kawasan Bendungan Hilir (banyak juga yang tidak tahu, lho, kalo Bendungan Hilir itu biasa disingkat dengan Ben-Hil! :p).
      Dengan muatan maksimal 7 orang penumpang (1 orang di depan dan 6 orang di belakang), suasana begitu “menegangkan”. Duduk berhimpitan dengan mbak atau eneng manis bikin tegang, begitupun bila duduk berhimpitan plus bersenggolan lutut dengan mas-mas sangar pasar Benhil. Tetap tegang!

      Photobucket - Video and Image Hosting

      5. Delman: jenis angkutan umum yang juga belum pernah dinaiki selama di Jakarta.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      6. Kereta api (KRL): Salah satu jenis angkutan yang sangat berjasa dalam proses pengerjaan skripsi. Dari Stasiun Pasar Minggu ke Stasiun UI selalu setia menemani. Pernah merasa sia-sia membeli tiket karena tidak pernah ada pemeriksaan tiket. =)

      Photobucket - Video and Image Hosting

      7. Metromini: Wah, untuk yang satu ini penuh suka dan duka lah. Mulai dari harus berlari mengejar laju bis kota maupun harus adu nyali dengan pencoleng yang siap beraksi.
      Bukan bermaksud SARA, namun penyebutan asal daerah dan teman-temannya sangat berpengaruh pada keselamatan jiwa dan barang kita. Hehehehe….
      Jalur Blok M – Tanah Abang, Ragunan – Blok M, maupun Pasar Senen – Benhil, sangat berwarna dengan kehadiran de Oranje ini.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      8. Ojek (motor): Pernah memberikan pengalaman yang menakutkan bagi seorang teman yang baru pertama kali naik ojek ini di Jakarta. Cara mengendarai motor dengan metoda gas pol, rem kalau ingat, memberikan getaran yang tak terlupakan. Dia hanya bisa bilang, “Semprul!”
      Bisa diandalkan untuk semua orang dari berbagai kalangan bila menginginkan jarak Senayan – Gambir ingin ditempuh selama 10 menit.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      9. Ojek (sepeda): Selalu memberikan pemandangan yang mengharukan bila melihat mereka ngetem menunggu para pengguna jasa mereka. Dengan tenaga yang mereka miliki, mereka bekerja keras menggenjot sepeda. Semakin banyak genjotan, semakin banyak lah rupiah masuk kantong mereka.
      Salut juga kepada sebagian di antara mereka yang setia menjadi pengojek sepeda sekadar ingin melestarikan moda angkutan tersebut.
      Mudah dijumpai di sekitar Stasiun Kota. Akan muncul pemandangan unik ketika pengguna jasa mereka yang masih menggunakan baju kerja lengkap dengan dasinya, membonceng geyal-geyol mengikuti gerak sepeda menyusuri jalan di kawasan kota tua itu.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      10. River taxi: Sebutan yang keren, walau tak sekeren penampilannya. Terakhir melihat angkutan ini di sekitar wilayah Manggarai, beberapa tahun yang lampau. Saat ini mungkin mudah ditemui di kawasan Jakarta bagian utara.
      Salah satu jenis angkutan yang belum pernah dinaiki juga.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      Selamat ulang tahun yang ke-479 Jakarta!

      Angkuta di Kota Jakarta

      Entah sebuah keberuntungan atau sesuatu yang harus dialami ketika dulu pernah merasakan berbagai macam angkutan umum yang beroperasi di Jakarta ini.

      Setiap moda angkutan memberikan sensasi yang luar biasa. Ya, penumpangnya, ya, situasi dan kondisi kendaraannya. Kalau istilah orang yang sedang jatuh cinta, berjuta rasanya, lah!

      Setelah gresek-gresek di sana-sini, berbagai angkutan bisa kudapatkan gambarnya. Masing-masing moda angkutan ada kisah yang mengiringinya. Ada yang pernah dinaiki, ada juga yang sebatas dilihat. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

      1. Angkot: Biasa digunakan ketika mengawali perjalanan menghabiskan hari-hari di Ciputat. Nomor lambung angkot DO-1 selalu memberikan sinonim yang mesra; Angkot Doi! Dulu pp jauh-dekat sekitar 1500. Setelah BBM naik, ongkos angkot pun ikut naik, menjadi sekitar 2000 pp.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      2. Bajaj: Selalu memberikan solusi paling ideal untuk menembus keruwetan lalu lintas Jakarta tanpa takut kehujanan. Walaupun tidak memberikan jaminan tidak akan terkena cipratan air dari mobil yang melintas di samping bajaj.
      Salah satu kenangan terindah adalah ketika bajaj masih diizinkan melintas di halaman Monas. Ketika itu malam tlah merayap melingkupi ibu kota, dari stasiun Gambir dengan bajaj menembus keangkuhan pijar puncak Monas menuju kawasan Thamrin, untuk berganti angkutan ke bus kota jurusan Blok M.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      3. Becak: Belum pernah sama sekali selama di Jakarta naik becak. Beda dengan di Jogja, di Jakarta becak bukan angkutan umum favorit. Mulai dari bentuknya yang sangat ceper, dilihat saja sudah merasa capek. Langsung kasihan dengan si abang becak.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      4. Bemo: Angkutan andalan ketika masih menghuni kawasan Bendungan Hilir (banyak juga yang tidak tahu, lho, kalo Bendungan Hilir itu biasa disingkat dengan Ben-Hil! :p).
      Dengan muatan maksimal 7 orang penumpang (1 orang di depan dan 6 orang di belakang), suasana begitu “menegangkan”. Duduk berhimpitan dengan mbak atau eneng manis bikin tegang, begitupun bila duduk berhimpitan plus bersenggolan lutut dengan mas-mas sangar pasar Benhil. Tetap tegang!

      Photobucket - Video and Image Hosting

      5. Delman: jenis angkutan umum yang juga belum pernah dinaiki selama di Jakarta.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      6. Kereta api (KRL): Salah satu jenis angkutan yang sangat berjasa dalam proses pengerjaan skripsi. Dari Stasiun Pasar Minggu ke Stasiun UI selalu setia menemani. Pernah merasa sia-sia membeli tiket karena tidak pernah ada pemeriksaan tiket. =)

      Photobucket - Video and Image Hosting

      7. Metromini: Wah, untuk yang satu ini penuh suka dan duka lah. Mulai dari harus berlari mengejar laju bis kota maupun harus adu nyali dengan pencoleng yang siap beraksi.
      Bukan bermaksud SARA, namun penyebutan asal daerah dan teman-temannya sangat berpengaruh pada keselamatan jiwa dan barang kita. Hehehehe….
      Jalur Blok M – Tanah Abang, Ragunan – Blok M, maupun Pasar Senen – Benhil, sangat berwarna dengan kehadiran de Oranje ini.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      8. Ojek (motor): Pernah memberikan pengalaman yang menakutkan bagi seorang teman yang baru pertama kali naik ojek ini di Jakarta. Cara mengendarai motor dengan metoda gas pol, rem kalau ingat, memberikan getaran yang tak terlupakan. Dia hanya bisa bilang, “Semprul!”
      Bisa diandalkan untuk semua orang dari berbagai kalangan bila menginginkan jarak Senayan – Gambir ingin ditempuh selama 10 menit.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      9. Ojek (sepeda): Selalu memberikan pemandangan yang mengharukan bila melihat mereka ngetem menunggu para pengguna jasa mereka. Dengan tenaga yang mereka miliki, mereka bekerja keras menggenjot sepeda. Semakin banyak genjotan, semakin banyak lah rupiah masuk kantong mereka.
      Salut juga kepada sebagian di antara mereka yang setia menjadi pengojek sepeda sekadar ingin melestarikan moda angkutan tersebut.
      Mudah dijumpai di sekitar Stasiun Kota. Akan muncul pemandangan unik ketika pengguna jasa mereka yang masih menggunakan baju kerja lengkap dengan dasinya, membonceng geyal-geyol mengikuti gerak sepeda menyusuri jalan di kawasan kota tua itu.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      10. River taxi: Sebutan yang keren, walau tak sekeren penampilannya. Terakhir melihat angkutan ini di sekitar wilayah Manggarai, beberapa tahun yang lampau. Saat ini mungkin mudah ditemui di kawasan Jakarta bagian utara.
      Salah satu jenis angkutan yang belum pernah dinaiki juga.

      Photobucket - Video and Image Hosting

      Selamat ulang tahun yang ke-479 Jakarta!